Di bawah cakrawala senja yang berwarna jingga, Rindu terpatri dalam hati yang pilu, Terbayang wajahmu, Nabi tercinta, Cahaya kehidupan, pelipur lara.
Bagaikan bunga yang merekah di taman syurga, Engkau adalah pancaran kasih yang abadi, Kau datang membawa wahyu ilahi, Menyinari kegelapan, membimbing jiwa yang terhilang.
Oh, Rasulullah, pemimpin yang mulia, Sentiasa terpahat dalam doa-doa, Hatiku merindu, sujud di malam sepi, Mendambakan cahaya wajahmu yang agung.
Kisahmu merentang dari pasir gurun yang tandus, Hingga pegunungan yang tinggi nan megah, Setapak demi setapak, jejakmu terukir, Bagai embun pagi di kelopak bunga yang berseri.
Pernahkah kau mendengar suara angin bertiup lembut?Mengisahkan keajaiban ketika kau disampaikan, Wahyu-wahyu suci dari Yang Maha Kuasa, Seraya kau tersenyum, sambut dengan hati yang bersih.
Wahai Rasulullah, teladan umat manusia, Melangkah dengan kesederhanaan yang mengharukan, Di bawah langit yang luas, bersama keluarga yang setia, Kau tanamkan benih-benih cinta dan kebijaksanaan.
Sejenak, bayangmu hadir di mataku, Mengajariku tentang sabar dan keikhlasan, Bagaikan embun yang meresap di bumi kering, Engkau menyirami hatiku yang haus akan kebenaran.
Perlahan-lahan, seperti matahari yang terbenam, Kau meninggalkan dunia ini, meninggalkan kerinduan, Namun, bukan kepergianmu yang menjadi akhir, Melainkan warisan cahaya yang terus bersinar.
Rindu ini bagai lautan yang tak berhingga, Gelombangnya menerpa di tepi hati, Berbisik lembut, memanggil namamu, Seakan engkau hadir dalam doa-doa yang tak terucap.
Pernahkah engkau melihat cahaya rembulan?Itulah sinar kasih sayangmu yang terang benderang, Menerangi malam gelap dengan kehangatan, Menghapus kegelapan di sudut-sudut jiwa yang sunyi.
Engkau adalah pelita dalam kegelapan, Panduan bagi yang tersesat di padang pasir, Wahai pemimpin kami yang agung, Takkan pudar rasa rindu dalam kalbu ini.
Rindu, seperti aroma mawar yang harum, Mengalun lembut di relung hati yang dalam, Seakan engkau dekat, walau jarak melipat, Dalam zikir dan doa, kau selalu hadir.

Bagaikan burung yang merindukan langit biru, Hati ini terbang mencari redup bayanganmu, Dalam mimpi atau kenyataan, tak ubahnya, Rindu ini tak pernah pudar, tak pernah sirna.
Oh, Rasulullah, engkau adalah purnama malam, Cahayamu menyinari kegelapan malamku, Setiap kata dalam Quran yang kau sampaikan, Merupakan petunjuk bagi umat yang mencari jalan.
Di dalam sunyi, aku mendengar suaramu, Berkicau seperti burung-burung di surga, Menyampaikan pesan kasih dan perdamaian, Menjernihkan hati yang terkotori dosa.
Bagaikan angin yang menerpa daun-daun kering, Engkau datang membawa kehidupan yang baru, Membasahi jiwa yang dahaga akan kebenaran, Dengan sorot mata yang penuh kasih dan kebijaksanaan.
Rindu ini, wahai Nabi tercinta, Tak terhingga, seperti langit yang luas, Di setiap sujud, di setiap doa, Engkau hadir dalam keheningan hati.
Pernahkah kau melihat air mata yang berlinang?Itulah rindu yang tak mampu terucapkan, Mengalir dalam doa-doa yang penuh pengharapan, Agar bertemu denganmu di taman surga yang abadi.
Dalam riuhnya dunia yang penuh godaan, Engkau tetap teguh berdiri, sebagai panutan, Oh, betapa besar cinta dan rindu ini, Bagimu, wahai Rasulullah, yang abadi.
Tak pernah pudar cahaya kasih sayangmu, Begitu juga rindu yang tak pernah usai, Dalam hati ini, engkau tetap bersemayam, Sebagai teladan, sebagai pelita kehidupan.
Puisi ini tercipta sebagai ungkapan dari hati yang merindukan kehadiran Rasulullah, sosok yang menjadi teladan sempurna dalam kehidupan. Semua kata-kata ini mengalir sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang kepada Nabi Muhammad SAW, yang membawa cahaya petunjuk dan keberkahan bagi umat manusia.